
Dalam perkembangannya, Direct Cinema terbukti
sebagai kekuatan yang berpengaruh sepanjang sejarah film dokumenter.
Berbagai pengembangan serta inovasi teknik serta tema bermunculan dengan
motif yang makin bervariasi. Salah satu bentuk variasi dari Direct Cinema yang paling populer adalah “rockumentaries” (dokumentasi musik rock). Rockumentaries memiliki bentuk serta jenis yang beragam. Let it Be (1970) memperlihatkan grup musik legendaris The Beatles yang tengah mempersiapkan album mereka.Woodstock: Three Days of Peace & Music (1970)
garapan Michael Wadleigh merupakan dokumentasi dari festival musik tiga
hari di sebuah lahan pertanian yang menampilkan beberapa musisi rock
papan atas. Woodstock sering dianggap sebagai film dokumenter musik
terbaik sepanjang masa dan menjadi dasar berpijak bagi film-film
dokumentasi sejenis berikutnya. Pada dekade mendatang, This is Spinal Tap (1984) merupakan sebuah parodi rockumentary yang terbukti paling sukses komersil pada masanya.
Tradisi Direct Cinema juga
tampak pada film-film kontroversial karya Fredrick Wiseman.
Film-filmnya banyak bersinggungan dengan kontrol sosial, berkait erat
dengan birokrasi dan bagaimana masyarakat dibuat frustasi olehnya. Dalam
film debutnya, High School (1968) memperlihatkan bagaimana
para siswa berontak melawan birokrasi di sekolah mereka. Maysles
Bersaudara memproduksi film “Direct Cinema” Amerika berpengaruh, Salesman (1966)
yang menggambarkan seorang salesman yang gagal. Sejak era 70-an, format
film dokumenter mulai berubah melalui kombinasi pendekatan Direct Cinema,
kompilasi footage, narasi, serta iringan musik. Salah satu sineas yang
mempelopori format kombinasi ini adalah Emile De Antonio melalui film
anti perangnya, Vietnam: In the Year’s of the Pig (1969). Dalam
perkembangannya format ini mendominasi gaya film dokumenter selama
beberapa dekade ke depan. Munculnya format digital juga semakin
memudahkan siapa pun untuk memproduksi film dokumenter. Kritik sosial
dan politik, lingkungan hidup, serta keberpihakan kaum minoritas masih
menjadi menu utama tema film dokumenter beberapa dekade ke depan.
Beberapa
sineas dokumenter berpengaruh muncul selama periode 70-an hingga kini.
Erol Morris memproduksi film-film dokumenter unik dengan tema dan subyek
yang tak lazim, seperti Gates of Heaven(1978), The Thin Blue Line (1988), serta Mr. Death (2000).
Barbara Kopple dikenal melalui filmnya bertema demonstasi buruh, yakni,
Harlan County, USA (1976) dan American Dream (1990). Michael Moore
gemar melakukan kritik sosial dan politik melalui film-filmnya Roger and Me(1989), Bowling for Columbine (2001), Fahrenheit 9/11 (2004) sertaSicko. Kevin Rafferty dikenal melalui film-filmnya seperti The Atomic Café (1982) dan The Last Cigarettes (1999). Pendekatan eksotis Flaherty juga masih tampak dalam film peraih Oscar, March of the Penguins (2005)
yang tercatat sebagai film dokumenter terlaris sepanjang masa. Selama
sejarah perkembangannya, film dokumenter terbukti dapat lebih
manipulatif ketimbang film-film fiksi komersil. Film dokumenter melalui
penyajian dan subyektifitasnya seringkali cenderung menggiring kita
untuk memihak. Masalah etika dan moral selalu dipertanyakan. Sineas
dokumenter seyogyanya tidak hanya mampu menyajikan fakta namun juga
kebenaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar