Kalyana Shira Foundation bekerjasama dengan Putera Sampoerna Foundation Mempersembahkan Sebuah film dokumenter karya sutradara Nia Dinata.
Mengejar Impian.
3015 persaingan. 5 masa depan diperjuangkan.
Ditayangkan Blitz Megaplex 9 November 2010
Nuning, Tika, Cahya, Aang dan Rahmatillah adalah lima orang remaja dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Mereka punya kesamaan: sama-sama cerdas, sama-sama bercita-cita tinggi dan sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu. Suatu kali mereka mendengar tentang beasiswa di Sampoerna Academy, sebuah sekolah berasrama yang menyediakan pendidikan berstandar internasional bagi siswa berprestasi dari keluarga prasejahtera. Kini kesamaan mereka bertambah satu lagi: sama-sama mengimpikan bersekolah di Sampoerna Academy. Kelima remaja ini terpaksa berjuang keras untuk meraih peluang emas itu. Ada hampir 1.5 juta remaja di Indonesia yang tidak bersekolah karena kesulitan biaya. Bagaimana Nuning, Tika, Cahya, Aang dan Rahmatillah melepaskan diri dari belenggu tersebut dan mengejar impian mereka?
VIVAnews -- Ini bukan adegan film laga yang penuh efek
sinema: sekelompok orang menunjukkan kemampuan bela diri ala ninja,
menggunakan shuriken, jungkir balik, menendang, membanting lawan, bahkan
berjalan di tembok.
Itu bukan menggambarkan peristiwa yang
terjadi di Jepang, negeri asal para ninja, melainkan di Iran. Yang
menarik, para petarung yang unjuk kebolehan adalah perempuan berjilbab.
Stasiun televisi Iran, Press TV menayangkan
video sebuah latihan di klub Ninjutsu di Iran. Bela diri itu kini
sangat populer di sana, terutama di kalangan perempuan muda.
Salah
satu klub Ninjutsu yang ditayangkan telah berdiri sejak 1989, selama
itu, sudah ada 3.500 perempuan yang dilatih menjadi kunoichi -- ninja
perempuan.
Instruktur
Ninjutsu, Fatima Muamer mengatakan, bela diri itu menarik bagi para
perempuan karena membantu menyeimbangkan raga dan pikiran. "Pelajaran
yang paling penting dalam Ninjutsu adalah rasa hormat dan kerendahan
hati."
"Mereka belajar untuk menghargai diri mereka sendiri -
pertama untuk menghormati keberadaan mereka dan kemudian seni yang
mereka kuasai."
Para murid diajarkan untuk menggunakan senjata berbahaya, termasuk busur, pedang, nunchucks dan shuriken.
Sensei
Akbar Faraji adalah orang pertama yang memperkenalkan ninjutsu ke Iran
ketika ia mendirikan klub 22 tahun yang lalu - yang kini memiliki 24.000
anggota.
"Dalam ninjutsu, laki-laki disebut ninja, sementara perempuan disebut kunoichi."
Dia
menambahkan, menjadi seorang ninja adalah melatih kesabaran, toleransi,
dan ketabahan. Secara harfiah berarti seni menjadi tak terlihat.
"Ninjutsu,
atau seni bela diri secara umum, dapat digambarkan sebagai obat. Sama
seperti racun ular, meskipun sangat berbahaya, itu bisa menjadi obat
penawar yang baik juga."
Ninjutsu dianggap salah satu bentuk yang
paling mematikan seni bela diri dan berhubungan dengan agen rahasia dan
tentara bayaran yang mengkhususkan diri dalam metode yang tidak lazim
selama perang di Jepang antara 1185 dan 1868. (sumber:Daily Mail) (eh)